Wakatobi Dive Resort

26 August 2017 33x Nature

Beranda » Nature » Wakatobi Dive Resort

“Siapa pun pasti tahu tentang adanya air mata pada hari terakhir perjalanan di Wakatobi,” tertulis di suatu uraian pada situs Wakatobi Dive Resort, “…tamu sama sekali tak ingin meninggalkan surga ini untuk kembali ke dunia nyata.”

Resor yang terletak jauh di ujung selatan deretan pulau dekat Sulawesi Tenggara ini adalah salah satu pusat selam paling eksklusif di Indonesia. Bahkan berjarak tiga pulau ke sebelah utara dari sini (namun amat jauh dari resor mewah) di Pulau Hoga yang kecil dan sederhana, saya merasa jauh dari dunia “nyata”.

Ini adalah kunjungan kedua saya ke pulau-pulau ini, dan meskipun saya belum pernah benar-benar menangis menjelang pulang pada perjalanan pertama, saya sangat senang bisa kembali. Saya berada di kepulauan yang secara tradisional dikenal sebagai Kepulauan Tukangbesi namun pemandangan di depan saya sangat jauh dari lanskap sebuah kota industri baja. Di mana pun Anda berada di Wakatobi, mustahil untuk memikirkan apa pun kecuali istilah surgawi penuh kebahagiaan di kartu pos bergambar: “terumbu karang toska”, “pasir pantai sehalus bedak”, dan “nyala
matahari terbenam” yang merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari di sini.

Saat daerah ini dinyatakan sebagai taman nasional pada tahun 1996, nama Wakatobi dipilih sebagai singkatan untuk empat pulau utama: Pulau Wangi-Wangi, Pulau Kaledupa, Pulau Tomia, dan
Pulau Binongko. Sebenarnya ada 143 pulau di sini tapi hanya tujuh di antaranya yang dihuni secara permanen.

Saya telah menghabiskan waktu menjelajahi Wangi-Wangi dengan pantainya yang spektakuler, terumbu karang kelas dunia, dan sabana yang seolah di dunia khayal. Saya telah mendaki puncak-puncak tertinggi di Wakatobi. Meskipun hanya setinggi 274 meter di atas permukaan laut, tetapi lembah bawah laut Wakatobi dikatakan melandai hingga lebih dari satu kilometer.

Saya sedang bersemangat untuk sedikit menjelajah, sehingga dengan harapan akan berhasil walaupun tanpa rencana, saya mengikuti insting menuju bukit kecil dengan batu, pasir, dan pohon kelapa yang dikenal sebagai Pulau Hoga. Saya menaiki kapal feri kecil antarpulau dari pelabuhan nelayan kecil di Kota Wanchi di Pulau Wangi-Wangi dan menyibukkan diri di kanal dekat Pulau Kambode. Ketika kami melintasi perairan yang lebih dalam dekat Pulau Komponaone, saya sudah menikmati sinar matahari, duduk di atap perahu bersama sekelompok penduduk pulau yang kembali ke surga sehabis lelah bekerja kasar di Kota Kendari yang berjarak 200 km dari sini. Saya yakin mereka bahkan merasa lebih bahagia untuk kembali daripada saya.

Ketika perahu kecil kami menderu di sepanjang perairan dangkal dekat Pulau Kaledupa, teman seperjalanan temporer saya melambai dengan gembira pada teman-teman di rumah-rumah kayu yang berdiri di atas karang. Beberapa rumah didirikan dengan pasak-pasak kaku di atas air, seperti bangau yang canggung, tetapi yang lainnya berdiri seimbang pada pulau karang buatan manusia. Saya menyadari bahwa para tukang yang bermigrasi itu pada kenyataannya adalah Orang Bajau. Lebih dikenal di dunia luar sebagai “Gipsi Lautan”, Orang Bajau adalah salah satu kelompok etnis berjumlah tak terhitung yang hidup (sebagian besar masih hidup hingga sekarang) di garis pantai dari Maluku sampai Myanmar. Saya telah bertemu “Gipsi Lautan” yang benar-benar nomaden, hidup di gubuk-gubuk apung dengan perahu kecil bercadik untuk menangkap ikan saat mereka mengikuti gerombolan ikan mengarah ke utara di sepanjang pantai Sulawesi Tenggara. Saya juga telah berenang bersama anak-anak Gipsi Lautan yang menetap di Kepulauan Alor, Pulau Kalimantan dan Pulau Komodo. Pernah suatu kali saya mengerjakan penugasan
di wilayah Gipsi Lautan dari Thailand, yang lebih dikenal sebagai Moken. Saya mempekerjakan penerjemah bahasa Thai untuk membantu penulisan artikel itu. Beberapa menit menjelang wawancara pertama kami dengan kepala desa Moken, saya membuatnya tertegun karena saya seakan bisa berbicara bahasa Moken dengan nyaris fasih. (Saya membiarkannya tetap heran hingga saya akhirnya menunjukkan, sore itu, bahwa saya telah mengetahui bahwa bahasa Moken yang masih ada sampai sekarang ini hampir seluruhnya berasal dari bahasa Indonesia.)

Orang-orang dari Sulawesi Selatan sejarahnya termasuk di antara para penjelajah besar dunia dan di zaman kuno mereka menyebar untuk menjajah banyak wilayah timur Indonesia. Ada kemungkinan bahwa para ahli sejarah tidak pernah benar-benar mengetahui tepatnya batas-batas wilayah penjelajahan mereka. Tetapi para penduduk pulau yang pemberani ini (nenek moyang mereka mungkin adalah para pekerja dari Kaledupa) bahkan bisa saja telah berlayar sangat jauh untuk menjajah Madagaskar, lebih dari 8.000 kilometer jauhnya dengan menempuh kedalaman Samudra Hindia yang menakutkan. Saat saya berpindah kapal di dermaga kecil di Kota Tamboeloeroeha, saya menyadari bahwa beberapa nama tempat di sini—Kampenaune, Tolandano, Gunung
Sampuagiwolo—anehnya mengingatkan pada nama-nama dari perjalanan saya ke Madagaskar.

Sekarang, di Pulau Hoga, saya masuk ke bungalo kecil yang menghadap ke pantai, mengikatkan tempat tidur gantung saya di dekat garis pantai dan menetap selama beberapa hari yang membahagiakan untuk berjalan-jalan di lintasan pasir yang sepi yang berada 1.000 km jauhnya dari dari pantai-pantai penuh sesak di Bali.

aya telah mengelilingi hampir seluruh pulau tanpa melihat satu pun wajah asing lain meskipun beberapa anak setempat yang ramah bekerja sama untuk menjadi pemandu wisata dadakan. Anak yang terkecil harus digendong di punggung kakaknya saat melintasi singkapan karang tajam yang membentuk dasar-dasar dari banyak pulau di sini. Saya menyelam di atas terumbu kristal di mana airnya yang sejuk itu begitu jernih hingga saya justru merasa seakan mengambang di langit tak kasatmata, bukannya terendam dalam air. Di sini, di perairan kaya mineral di mana arus dari Laut Banda dan Laut Flores bertemu, keanekaragaman hayati laut tampaknya telah berkembang begitu pesat dan saya sampai lupa sudah berapa jumlah spesies ikan yang saya temui.

Pada tahun 2012, Wakatobi terdaftar sebagai kawasan ke-12 yang dilindungi di Indonesia dan berada di bawah payung World Network of Biosphere Reserves. Bahkan satu dekade sebelum ini WWF telah meluncurkan program “Coral Triangle Initiative” di sini. Organisasi ini tetap berperan sangat aktif dalam memerangi praktik penangkapan ikan yang merusak seperti bom dan racun,
dan mereka bekerja sama dengan masyarakat sekitar untuk menemukan alternatif gaya hidup berkelanjutan yang tidak merusak lingkungan.

Untuk memahami pentingnya wilayah yang telah ditunjuk sebagai Segitiga Terumbu Karang (yang sebagian besar terletak di perairan Indonesia), kita tak boleh lupa bahwa 750 dari 850 spesies terumbu karang dunia terdapat di daerah ini. Bahkan Karibia yang dianggap salah satu pencapaian puncak bagi para penyelam tingkat dunia hanya memiliki 50 spesies karang.

Penyelam legendaris Perancis, Jacques Cousteau, menobatkan Wakatobi sebagai “surga bawah air”. Tidak ada catatan yang menyebutkan apakah pelopor selam modern ini benar-benar meneteskan air mata ketika harus meninggalkan Wakatobi.

# Bagikan informasi ini kepada teman atau kerabat Anda

Belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi.

Komentar Anda* Nama Anda* Email Anda* Website Anda

Kontak Kami

Apabila ada yang ditanyakan, silahkan hubungi kami melalui kontak di bawah ini.