Semarang

1 August 2017 60x Adventure

Beranda » Adventure » Semarang

Ada karakter santai yang menyenangkan di kota yang mungkin menjadi kota paling “Mediterania” di Indonesia.

Dari tempat kami berdiri, saya bisa melihat sejauh lebih dari 30 km pantai utara Jawa. Namun tiba-tiba, mata saya tertuju pada sesuatu yang bagi saya bak roket-roket yang hendak meluncur ke ruang angkasa dari teras marmer yang begitu luas di bawah sana.

“Masjid Agung Semarang itu dapat menampung hingga 5.000 jemaah,” tambah Diani, sambil menunjuk pada keenam “roket” tersebut. Rupanya, yang saya lihat itu adalah payung baja elektrik modern berukuran sangat besar yang dapat dibuka setiap hari Jumat (jika keadaan angin memungkinkan) untuk melindungi para jemaah di halaman dari sengatan sinar matahari.

Kubah dan menara Masjid Agung Jawa Tengah yang berkilau membentuk sebuah pulau putih di antara sawah yang bagaikan laut zamrud di sekitarnya, seolah jauh dari kesan bangunan kolonial di jantung kota tua itu. Sejak menjadi pusat administrasi utama Belanda pada 1678, Semarang telah berkembang menjadi kota terbesar kelima di Indonesia.

“Kota Lama ini dibangun sebagai pertahanan dan juga tempat perdagangan yang secara alami terletak di daratan tak jauh dari pantai,” Diani berkata sambil menunjuk ke arah sejumlah alat berat dengan pengangkat yang kini merupakan pelabuhan modern yang sangat sibuk. Bahkan kini kota tua ini tetap menjadi jantung kota yang bernuansa romantis. Dengan dinding bercat putih, alun-alun yang dinaungi pohon palem dan gang-gang yang sepi, Semarang bisa digambarkan sebagai kota “Mediterania” yang paling apik di Indonesia.

Saya pertama kali menangkap nuansa Mediterania ini di alun-alun Tugu Muda di mana air mancur di sekitar monumen (didedikasikan untuk penduduk setempat yang gugur dalam pemberontakan melawan penjajah Jepang pada 1945) memancurkan tetesan air berkilau ke udara siang yang panas. Nuansa ini bahkan menjadi lebih nyata di halaman gedung yang dikenal
penduduk setempat di mana pun sebagai Lawang Sewu.

Dahulu gedung ini merupakan bangunan ramai di mana ratusan pekerja kantor dengan riuh mengetuk mesin tik dan mesin telegraf, kini menjadi salah satu sudut paling menggugah di Semarang. Pada pagi hari di akhir pekan, sekelompok turis lokal mengobrol santai sambil duduk-duduk di bawah naungan pohon mangga yang menjulang tinggi. Di belakang pinggiran halus kemboja kuning, jalan kecil teduh membentang di sepanjang bangunan yang dulunya adalah kantor yang dikelola oleh banyak sekali pegawai kereta api, memberikan naungan yang lebih teduh. Dibangun dengan gaya arsitektur yang sering disebut orang Belanda sebagai New Indies Style, namun dengan lengkungan bercat putih gaya Arab dan menara bergaya Moor, Anda bisa langsung membayangkan seakan tengah berada di pantai selatan Mediterania di antara Tripoli dan Tangier.

Nama Lawang Sewu—yang berarti ‘Seribu Pintu’—tidak diragukan lagi lebih mudah diucapkan daripada nama resminya Administratiegebouw Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij yang digunakan ketika bangunan ini pertama kali dibuka pada 1907. Pada kenyataannya di sini ada lebih sedikit dari seribu pintu (walaupun ada sekitar 600 jendela). Tapi sebagai kantor pusat perusahaan kereta api Hindia Belanda pertama, kompleks luas ini adalah salah satu bangunan paling mengesankan di era kekuasaan Belanda.

Lawang Sewu diduduki oleh pasukan Jepang selama perang dan kemudian oleh militer Indonesia setelah kemerdekaan sampai akhirnya ditinggalkan sama sekali. Tepat ketika mencapai usia seratus tahun, bangunan tersebut nyaris runtuh. Akhirnya, bangunan tersebut diremajakan dan dibuka sebagai tujuan wisata utama Semarang pada 2011.

Meskipun menyenangkan untuk duduk di lapangan, Lawang Sewu sendiri sangat mengesankan dan menyimpan koleksi artefak kuno dari zaman keemasan perjalanan dengan kereta api. Lawang Sewu tetap menjadi tempat yang romantis untuk dieksplorasi, lengkap dengan kisah-kisah bernuansa mistis di sekitar kompleks bangunan ini. Ruangan bawah tanah di salah satu kompleks perkantoran rupanya dibiarkan tertutup air agar udara di dalam gedung tetap terasa dingin dan sejuk, tetapi ada pula sejumlah orang yang memberikan penjelasan berbeda tentang dinginnya hawa di dalam gedung ini. Beberapa orang mengatakan bahwa Lawang Sewu dihuni oleh sejumlah makhluk halus, antara lain adalah penampakan wanita Belanda yang ditengarai pernah bunuh
diri, kuntilanak, dan hantu tanpa kepala. Ada pula desas-desus yang mengatakan bahwa dahulu pernah ada jalan bawah tanah, yang bermula dari tempat ini hingga ke kediaman gubernur dan bahkan hingga ke pelabuhan (yang sulit dipercaya dengan jarak hampir 4 km).

Tidak jauh dari Lawang Sewu, Anda bisa menemukan, yang oleh penduduk setempat dikenal sebagai “Kota Lama”, daerah tenang di mana becak masih menjadi moda transportasi pilihan di sekitar gang-gang dan jalan yang teduh di sisi kanal. Gereja Blenduk, di pusat daerah itu, dibangun pada 1753, dengan bagian luar bangunan berwarna putih berkilau dan kubah dari tembaga.
Kubah tersebut bisa saja merupakan hasil impor langsung dari daerah Mediterania yang memiliki iklim serupa. Di tengah pasar yang menjual barang antik dan beragam pernik ini berdiri bangunan megah, yang dahulu merupakan pusat perbelanjaan Spiegel pada 1895 dan kini berubah fungsi menjadi kafe dan bistro yang bergaya.

“Kami percaya bahwa hari Anda dimulai setelah meminum kopi…” tertulis pada uraian di menu dan Spiegel menawarkan apa yang mungkin menjadi “secangkir Jawa” yang terbaik di kota.

Meskipun Semarang terletak di pulau yang menumbuhkan beberapa kopi terbaik di dunia, kota ini sering dikenal dengan julukan Kota Lumpia atau bahkan Kota Jamu. “Anda bisa menemukan jamu di mana saja di Indonesia ini,” kata seorang perempuan kepada saya di samping gerobak pedagang di dekat Pasar Johar lama. “Tapi jamu Semarang yang rasanya pahit, itu yang paling top!”

Jamu memang minuman yang menyehatkan, dapat meningkatkan energi, sekaligus bisa menjadi obat mujarab, akan tetapi jamu dari Semarang ini adalah jamu paling pahit yang pernah saya minum.

Ekspresi wajah saya pun langsung tak karuan setelah meminum jamu itu sehingga membuat para pedagang yang melihat tertawa. Saya langsung disodori segelas kecil jamu dengan rasa manis
dari madu sebagai penawar pahit.

Rasa manis yang kental itu sungguh menyenangkan. Rasa manis itu seolah mewakili daya tarik dari kota yang langsung menjadi favorit saya.

# Bagikan informasi ini kepada teman atau kerabat Anda

Belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi.

Komentar Anda* Nama Anda* Email Anda* Website Anda

Kontak Kami

Apabila ada yang ditanyakan, silahkan hubungi kami melalui kontak di bawah ini.