Beranda » Backpacker » Kepulauan Raja Ampat di Papua

Sebagai salah satu permata di timur Indonesia, Raja Ampat menyimpan keragaman biota laut. Colours mengungkap kekayaan bawah laut dari kawasan Empat Raja ini.

Saya terbang  menuju Sorong dan ketika kami mendekati pulau-pulau kecil di Semenanjung Kepala Burung, lautan biru, pantai berpasir, dan pulau-pulau hijau yang rimbun pun mulai terlihat di bawah. Saya akan mendarat di kota besar tersebut, dan sepertinya akan membeli beberapa perlengkapan untuk perjalanan menyelam ini, atau melihat-lihat toko suvenir khas Papua Barat. Tetapi tak lama lagi, sebuah kapal terbuat dari kayu akan membawa saya meninggalkan kota. Kapal sekaligus tempat tinggal saya selama menjelajahi pulau-pulau kecil di bagian tengah, utara, dan barat laut Raja Ampat yang terkenal.

Dalam perjalanan kali ini, kami menumpang dive boat pinisi selama bulan-bulan di musim panas. Waktu seperti ini bukanlah saat yang populer untuk berkunjung (kebanyakan kapal pergi ke Komodo di bulan-bulan ini). Tetapi justru saat itulah tak akan terlalu banyak kapal untuk penyelam dan laut pun tak berombak. Papua memiliki musim yang panjang tanpa musim kering atau hujan yang jelas. Mungkin kami akan mendapatkan lebih banyak hujan, tetapi hal ini bukan masalah mengingat kami dapat menikmati area ini dengan tenang.

Perhentian pertama adalah Selat Dampier, di mana kita bisa melihat berbagai macam ikan yang menakjubkan dengan banyaknya gunung laut dan palung bawah laut, terutama ketika ada arus yang merangsang kehidupan laut.

Terletak di Provinsi Papua Barat, Indonesia, Raja Ampat atau “Empat Raja” merupakan kepulauan yang terdiri atas 1.600 pulau-pulau kecil, gundukan, dan dangkalan. Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai organisasi konservasi Indonesia dan internasional mulai melindungi dan mengawasi daerah ini karena kelimpahan kehidupan laut dan terumbu karangnya yang subur. Raja Ampat dinilai sebagai pusat keanekaragaman hayati laut tropis global oleh banyak ahli. Dulu, untuk berkunjung ke sini, kita harus tinggal di kapal. Sekarang, sejumlah resor di daratan telah bermunculan, beberapa di antaranya muncul baru-baru ini. Terdapat juga berbagai homestay untuk wisatawan berbujet rendah. Resor-resor ini menawarkan kapal cepat untuk membawa tamu dari Sorong ke berbagai fasilitas di daratan. Pulau seperti Kri, Birie, dan Pef memiliki beberapa resor yang cukup dekat dengan titik selam dan snorkelling yang terkenal di wilayah tersebut.

Titik selam Tanjung Kri terletak sangat dekat dari dua fasilitas resor Kri yang didirikan oleh pelopor selam di Raja Ampat, Max Ammer. Tanjung Kri adalah titik arus terkenal yang secara konsisten memperlihatkan sekawanan ikan kelelawar, barakuda, kuwe, ikan kakaktua besar, dan banyak ikan karang lainnya dalam jumlah besar. Di kedalaman terdapat kerumunan besar yellow-striped sweetlips; sepanjang dinding yang landai terdapat karang-karang subur dan terkadang terlihat penyu laut yang sedang makan. Ini adalah impian setiap penyelam ketika arus laut membuat ikan-ikan menjadi hidup. Resor bahkan melaporkan adanya dugong yang tinggal di sini! Lembu-lembu laut ini biasanya pemalu dan jarang ditemui.

Para “raja” Raja Ampat adalah empat pulau utama, yakni Misool, Salawati, Batanta, dan Waigeo. Nama Raja Ampat berasal dari mitologi lokal yang bercerita tentang seorang perempuan yang menemukan tujuh buah telur. Empat dari tujuh telur tersebut menetas dan menjadi raja yang menempati empat pulau terbesar Raja Ampat. Tiga telur lainnya menjadi sesosok hantu, sebuah batu, dan seorang perempuan. Sejarah menunjukkan bahwa Raja Ampat pernah menjadi bagian dari Kesultanan Tidore, sebuah kerajaan yang berpengaruh dari Maluku. Orang Barat pun menjelajah ke perairan ini, baik untuk mencari rempahrempah maupun eksplorasi. Pada akhir 1600-an, seorang penjelajah dari Inggris, William Dampier, memberikan namanya untuk Selat Dampier, yang memisahkan Pulau Batanta dari Pulau Waigeo.

Setelah beberapa penyelaman ringan di selat-selat ini, kami bermaksud untuk melanjutkan penyelaman di beberapa pulau dan batuan besar (outcrops) dalam perjalanan kami menuju utara ke Suaka Alam Perairan Waigeo Sebelah Barat. Kami akhirnya berlabuh di dekat kars Wayag yang terkenal dengan panorama pulau batunya, lalu kembali melalui Penemu dan Batanta.

Menyelami Pulau Wofoh di musim panas merupakan sesuatu yang sangat istimewa. Sepanjang dinding bawah laut pulau hingga titik selam yang dikenal sebagai Edi’s Black Forest, jutaan baitfish kecil berkumpul. Kawanan besar ikan sarden, ekor kuning, dan silverside muda menutupi setiap inci terumbu karang, dari permukaan laut hingga ke kedalaman. Ikan-ikan kecil ini merupakan makanan bagi sejumlah predator. Ikan kerapu duduk di atas karang sambil memangsa dari tempat bertengger mereka. Kawanan ikan layang berkeliaran, menerobos sekawanan ikan-ikan yang mudah dimangsa. Hiu karpet yang kekenyangan bertengger di gua dan di dangkalan berbatu, sepenuhnya tertutup oleh sekumpulan ikan. Para penyelam harus mengusir ikan-ikan kecil hanya untuk melihat hiu-hiu yang beristirahat ini. Di pertengahan air, kawanan ikan sarden—yang disinari matahari saat bergerak—menciptakan bermacam pertunjukan cahaya yang membentuk pola-pola yang menakjubkan. Meskipun penyelaman di sini tetap indah tanpa pertunjukan musiman tersebut, tambahan sekumpulan ikan ini memberikan pengalaman menyelam yang tak terlupakan.

Para penyelam melewati garis khatulistiwa dalam perjalanan ke Wayag. Serangkaian singkapan berbatu, yang secara tepat disebut Kepulauan Khatulistiwa, menawarkan berbagai titik selam, termasuk The Maze. Di sini para penyelam benar-benar berenang melintasi khatulistiwa, menjelajah bawah gunung laut dan menyelam di antara celah terumbu karang yang dipenuhi oleh ikan hias dan dikunjungi oleh ikan kakaktua. Titik lainnya, seperti One Tree Rock, yang terkadang memiliki arus yang kuat atau arus yang tenang seperti kolam, memiliki sekumpulan karang tabung polip kuning yang indah. Ketika arus datang, karang ini terbuka mengembang dan mewarnai terumbu karang dengan warna-warna yang cemerlang. Titik ini juga memiliki kawanan besar ikan kuwe yang dapat ditonton oleh para penyelam untuk waktu yang lama.

Suaka Alam Perairan Waigeo Sebelah Barat memiliki pulau yang tertutupi hutan yang rimbun seperti Wayag dan banyak permata batu kapur lain yang menjadi gambaran khas seluruh wilayah Raja Ampat. Pantai dengan pasir putih halus tanpa sampah laut, teluk dangkal dengan karang yang sehat dan titik selam luar yang lebih dalam menjadikan titik ini sebagai tempat berlabuh pilihan untuk beberapa hari bagi kapal menyelam. Di sini, pengunjung dapat menikmati keindahan yang menawan, sungguh menyenangkan karena tak banyak orang di dunia ini yang mendapatkan kesempatan untuk melihat pesona taman tak berpenghuni nan menawan ini. Pulau-pulau ini masih harus dikembangkan dan untuk mencapai puncak Tangga Wayag masih harus melalui hutan kapur. Membutuhkan seorang yang tangguh untuk menempuh perjalanan ini, tetapi usaha tersebut akan terbayarkan oleh pemandangan dari puncak.

Titik indah lainnya untuk penyelam dan snorkeller adalah The Passage. Di sini, ahli biologi terkenal Alfred Russel Wallace mengira dirinya telah menemukan danau pedalaman yang besar. Ternyata, ia melalui kanal laut yang memisahkan Waigeo Barat dari Gam. Arus yang datang terus-menerus memenuhi serangkaian teluk. Teluk-teluk tersebut memiliki berbagai kipas laut dangkal berwarna merah dan kuning yang terkadang tumbuh ke atas permukaan yang berjejer sepanjang hampir 2 km, dan akhirnya membuka ke Teluk Kabui. Bertabur pulau berbatu kecil, pengunjung pasti ingin mengeluarkan kameranya untuk merekam keindahan alami ini.

Para penyelam juga tidak sabar merasakan pengalaman memandang dari ketinggian seperti yang ada di Wayag ketika kapal melaju kembali ke area Dampier. Di Pulau Penemu yang tak berpenghuni, dalam kelompok Pulau Fam, terdapat tangga kokoh yang indah dengan tempat istirahat dan dua geladak untuk melihat pemandangan dari atas. Pendakian masih terasa berat namun tidak seburuk pendakian di Wayag. Pemandangan pulau berbatu dan teluk zamrud yang didapatkan juga setimpal dengan beratnya usaha untuk mencapai puncak tersebut. Di sekitarnya terdapat beberapa titik penyelaman populer seperti Melissa’s Garden—dikenal akan karangnya yang sehat dan penampakan sesekali hiu sirip hitam—dan, tidak jauh dari kapal, terdapat Pulau Aborek. Penyelaman atau snorkelling di Dermaga Aborek tidak boleh dilewatkan. Sekawanan besar ikan selar mengelilingi dermaga ini, dan karang lunak berwarna merah tua menghiasi tiang-tiang yang terendam. Di bawah laut, hewan-hewan asing seperti ikan buaya bersembunyi bersama gurita cincin biru yang banyak dicari namun sangat mematikan.

Pulau-pulau bagian tengah dan utara Raja Ampat memakan waktu berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan untuk dijelajahi. Pulau-pulau tersebut dapat dikunjungi berkalikali, dan banyak wisatawan yang melakukan hal tersebut. Raja Ampat menjadi salah satu area yang wajib diselami bagi para penyelam dunia untuk melihat keindahan alam di atas dan di bawah laut Papua Barat yang menakjubkan.

# Bagikan informasi ini kepada teman atau kerabat Anda

Belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi.

Komentar Anda* Nama Anda* Email Anda* Website Anda

Kontak Kami

Apabila ada yang ditanyakan, silahkan hubungi kami melalui kontak di bawah ini.